MY LIFETIME EXPERIENCE STORY: #1 - TEACHING

Wednesday, June 03, 2015

to end my May posts, I wanna share with all of you beautiful people one of my best lifetime experience. 

Sejak Februari 2015, untuk memenuhi salah satu mata kuliah di semester akhir dan juga memenuhi persyaratan sidang skripsi, aku dan teman-teman satu angkatan menjalani PPL atau Progam Pengalaman Lapangan atau singkatnya, mulai mengajar di sekolah-sekolah. 

I was lucky enough to be back to my old high school, where I can meet my teachers and feel free to recall my high school memories. 

Mengajar atau menjadi guru sama sekali bukan salah satu cita-citaku sejak kecil. Long-short story, I ended up here. Semalam sebelum mulai mengajar or PPL day 1, aku takut setengah mati! Gila, takutnya bukan main. 


BEFORE IT ALL STARTED

Aku pernah menjadi tutor salah seorang mahasiswa asal Korea yang ingin belajar bahasa Indonesia, prosesnya memang alot. He's kinda lazy to learn sampai aku bingung motivasi dia datang kesini itu jadinya apa? Sebisa mungkin aku mengajarkan dia materi yang ringan dan mudah dipahami. Rasanya kaya ngajar anak TK karena harus bangun mood belajar dia dulu. Aku ikutin kemauan dia, kalau dia ingin belajar di tempat A, ya ayo. Jadinya kebanyakan main daripada belajar. Tapi Alhamdulilah, setelah 6 bulan jadi tutor, dia mengalami kemajuan yang berarti. Short to say, I'm not failed. 

Selain jadi tutor, aku pernah magang di BIS (Bandung International School), sekolah internasional di Bandung. Mengajar di 3 kelas dengan jenjang berbeda yaitu grade 7 dan 8 (SMP) dan satu lagi grade 11 (SMA). Waktu magang, aku menjadi asisten gurunya dan yang aku ajar itu bule semua, komunikasi dua bahasa, materi ajar masih ringan karena mostly yang aku ajar itu masih tingkat dasar dan menengah. One of amazing things I get is they all fast learner walaupun beberapa anak ada yang masih sangat kesulitan mengikuti materi di kelas, but that's my point to be there, to help them. 

I don't know why tapi setiap datang ke kelas, mood aku itu luar biasa! Aku enjoy banget sama murid-muridnya dan 2 guru bahasa Indonesia disana. The students are cool people to hang out with, and the teachers are amazing. Both of them helped me so much through my first time being there as an intern. 

Alhamdulilah, I made new younger friends. Ketemu sama dua anak dari grade 7 di PVJ and they ran toward me to give a hug and asked my life right now :") 

PS: I wish I still have pictures with them. I lost my phones and laptop, so I lost all of my pictures too! :(


PPL: REAL TEACHING

PPL artinya aku bakalan ngerasain gimana jadi guru sebenarnya dan mengajar at least 38 orang 1 kelas! 

Malam sebelum ngajar hari pertama aku baru tidur pukul 12-an dan bangun sekitar 4.30 untuk siap-siap karena aku mengajar pukul 6.45. Aku bahkan menangis saking takutnya. Entah kenapa, rasanya kok takut banget. Waktu mau mulai magang di BIS, nervous? obviously but not to the point where it's scared the hell ouf of me.

Guru pamongku memberi aku 2 kelas untuk diajar selama satu semester ini. Itu artinya aku harus siap mengajar siswa-siswa kelas 11 sebanyak 76 orang. Senang? Ya. Karena 2 kelas tidak terlalu berat, teman-temanku di sekolah lain bisa dapat 5 kelas untuk diajar. Beban? Ya. Karena aku akan mengajar, dan itu bukan bercandaan. Kalau aku mengajar dan kemudian bermanfaat, ilmu yang aku berikan pada 76 orang itu akan terbawa sampai mereka dewasa. Artinya, kalau aku benar, aku dapat pahala tapi kalau aku salah? aku berdosa (I don't know if anyone think like this but, well this is me. the overthinking person). 

I mean, me, a person, against 76 people?

Hari pertama mengajar, I was super crazy nervous padahal hanya perkenalan! Some of my students showed their affection, their interest, but some of them keliatannya cuek-cuek aja, bahkan terlihat tidak perduli sama sekali. Can you imagine me in front of those students? 

Kelas pertama yang aku ajar yaitu XI IPA 6 baru setelah itu aku mengajar di kelas XI IPA 5. Karakter kelasnya luar biasa! Pertama kali masuk ke kelas-kelas ini, gugup dan takut setengah mati. Karakternya beda banget dan sangat jauh dari apa yang aku bayangkan. Each of them is very different. Ada yang cuek banget sama guru, ada yang iseng, cerewet, manja, rajin. Segala ada deh!


XI IPA 5




XI IPA 6 





OVERWHELMED & OVERJOYED!

Mau ngajar itu rasanya beban banget! Setiap malam sebelum ngajar pasti belajar dulu karena aku ga mau kelihatan bodoh di depan murid-muridku. I'll be the one who they look up to. Sebisa mungkin kalaupun nggak belajar, aku pasti udah baca materi ajarnya.

Aku mikir gimana caranya supaya aku ga merasa ini beban dan mereka pun bisa nyaman sama aku, karena masa PPL ini cukup lama yaitu sekitar 5 bulan. Masa setiap hari harus jadi beban? Waking up to something stressful is not the way to live. 

Akhirnya, aku memutuskan untuk breaking the rules. Aku buat suasana kelas senyaman mungkin dengan menempatkan posisi aku sebagai teman. Cara yang sama yang aku terapkan pada adik-adikku. Sebisa mungkin memahami mau mereka, mengikuti apa yang mereka mau supaya tujuan pembelajaran hari ini tercapai. 

Aku yang awalnya menempatkan tujuan aku yang pertama, yaitu supaya aku bisa mengajar dan belajar menjadi guru yang baik dan benar, kemudian berpindah haluan menjadi tujuan terakhir. Tujuanku yang pertama justru bisa dekat dengan murid-muridnya dulu, suasana kelas nyaman, aku mengajar di kelasnya nyaman no more awkwardness, dan jadinya setiap pelajaran justru kayak kelas di tempat bimbel: santai. 

Bisa disebut terlalu santai karena mereka jadi keenakan dan seenaknya. Pada saat aku menjelaskan, tidak sedikit yang cuek-cuek saja tidak mendengarkan bahkan pernah aku tidak didengarkan sama sekali sampai-sampai begitu keluar kelas aku nangis di ruang piket. Belum lagi tugas-tugas yang ngaret dikumpulkan bahkan tidak dikerjakan.

Tapi, day by day bisa aku lalui dengan tenang. Aku jadi bisa mengontrol emosi, nggak lagi nangis-nangis di ruang piket, dan aku pun semakin bisa mengobrol dengan mereka dengan breaking the wall between teacher and student namun masih tetap aku batasi. Mereka pun lama kelamaan mengerti sendiri gimana harus bersikap di kelas dan di luar kelas, gimana sikap yang seharusnya mereka tunjukkan di kelas. Suasana di kelas semakin nyaman 2 bulan terakhir. Aku makin semangat mengajar sampai lupa kalau aku harus menulis laporan. But hey, what matter the most is we all happy. 

Sampai datang hari terakhir aku mengajar di kelas. Malam itu aku mengerjakan agenda kegiatan KBM untuk laporan, ga belajar karena toh sudah tidak ada materi yang perlu di bahas. My brain was automatically recall all the memories. Dari hari pertama yaitu perkenalan yang super-super awkward dan menakutkan buatku, sampai akhirnya datang hari terakhir yang dinamai perpisahan. I cried. 

When I look back to the time when I started all of these until right now, at the time when I can take pictures with them, I've been through so many ups and downs with them and for that, I can't thank them enough! 

Di kelas, aku datang sedikit terlambat masuk ke kelas karena harus menemui pamong dan mengobrol soal laporan, seperti biasa aku mengucapkan salam sebagai pembuka dan to the point. Aku bilang kalau hari ini hari terakhir aku mengajar di kelas, I told them that this is our last day. Believe me, I tried so hard to hold my tears. Aku ga mau nangis di depan kelas, di depan murid-muridku. It would be really silly. Akhirnya setelah cerita soal unek-unek dan minta mereka menulis di kertas kesan dan pesan selama diajar olehku, aku membagikan kenang-kenangan berupa pulpen berbentuk wayang dan coklat. 

Tadinya aku mau kasih mereka makanan, kepikiran untuk bagikan J.CO atau bread talk tapi aku pikir, itu bakalan habis hari itu juga, ga berkesan sama sekali. So, I decided to buy something for them. Aku ingin di ingat terus sama mereka, bukan hanya sebagai guru PPL, tapi sebagai teman karena aku menganggap mereka semua begitu. I get 76 more friends and it's amazing!






BEYOND AMAZING! 





Selain murid-murid yang hebat, aku juga mendapat 23 teman seperjuangan baru. Kami semua satu kelompok PPL dan sama-sama saling menyemangati. Sering banget curhat soal masalah di kelas, gimana caranya supaya diperhatikan murid, atau bahkan soal pamong, and all our problems. But more than that, we all get an amazing experience yang menurutku sulit dilupain. 


I'm all about breaking the rules during this whole experience! But one thing I've learned now, breaking the rule is not always bad. 

All I can say is everything happens for a reason and the reason is always have a beautiful dan deep meaning for us to learn how to live our life.


Have a great month ahead!

XOXO




Follow me on social medias: 
snapchat : veraverdiany




No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS